WordLinx - Get Paid To Click
Permanent Links

Thursday, 5 September 2013

Kisah Sunan Giri













Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhamamd Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra, sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu. Raden Paku kemudian diangkat menjadi anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi Versi Meinsma). Ayahnya adalah Maulana Ishak, saudara sekandung dari Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil mengislamkan istrinya, tapi gagal mengislamkan mertuanya.

Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga istrinya berkeLana hingga ke samudera Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, yaitu Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan desa Sidomukti, selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah ''Giri''. Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Konon, karena raja Majapahit khawatir sunan Giri mmencetuskan pemberontakan, maka raja memberi keleluasaan padahnya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itu pun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.

Sebagai pemimpin pemerintahan, sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa. Waktu itu, ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit dan membentuk kesultanan Demak, sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak.

Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui sebagai Mufti, pemimpin tertinggi keagamaan se tanah Jawa. Giri kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, yaitu Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih melawan VOC belanda dan Amangkurat II pada abad ke-18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, yaitu Datuk Ribandang dan dua sahabatnya adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga menciptakan karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, Lir-Ilir, dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung yang merupakan lagu bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

No comments:

Post a Comment